Menjadi seorang Puragabaya adalah suatu kehormatan besar. Kedudukan Puragabaya adalah kedudukan yang mulia. Seorang Puragabaya menyatukan sifat kesatriaan, keperkasaan dan kefaqihan agama dalam dirinya. Puragabaya merupakan pemuda pilihan yang diangkat dari kalangan bangsawan yang memiliki akhlak dan budi pekerti yang luhur serta fisik yang prima. Untuk dapat menjadi seorang Puragabaya harus melalui tahapan yang sangat berat dan sulit. Puragabaya diharuskan hidup sederhana , tinggal di sebuah padepokan di tengah hutan belantara, menghadapi latihan-latihan yang taruhannya nyawa. Selain mempelajari ilmu kanuragan dan beladiri yang mumpuni, Puragabaya juga dibekali dengan ilmu-ilmu agama. Sehingga seorang Puragabaya selain memiliki ilmu kanuragan yang sangat ampuh dan berbahaya, juga memiliki kefaqihan yang tinggi dalam agama.

Tuesday, August 23, 2011

Maenpo Kari Cikaret - Ilmu Pukulan Yang Mematikan


Plak! Sebuah tamparan ke arah pipi kiri terdengar begitu nyaring. Dari suaranya, bisa dipastikan tamparan itu sangat keras dan menyakitkan. Tak mengherankan jika yang terkena tamparan itu langsung lari terbirit-birit menghindar.

Beberapa orang yang menyaksikan adegan tersebut langsung tertawa. "Kalian sih bisa tertawa, saya sudah kenyang kena pukulannya. Menyentuhnya saja sudah merinding", kata Mamai sembari bergidik.

Mamai adalah salah satu murid aliran pencak silat Kari Cikaret. Yang menampar dia adalah sang guru, Dudun Abdullah. Wajar apabila yang berlatih bergidik. Sebab, siapa pun yang melihat peragaan jurus pukulan yang sangat cepat dan keras itu pasti akan merasa ngeri bercampur kagum.

Wak Dudun--sang guru biasa disapa--adalah putra Aa Toha (wafat pada 1972), yang menjadi perintis aliran ini. Nama Kari diambil dari nama Bang Kari, guru silat asal Kampung Benteng, Tangerang, yang menjadi sumber ilmu. Sedangkan Cikaret adalah nama daerah di Cianjur, tempat Aa Toha bermukim.

Tidak banyak yang diketahui soal Bang Kari kecuali bahwa ia adalah salah seorang guru dari Rd. H Ibrahim, pendiri Cikalong. Menurut Rd. Memet, salah seorang sesepuh Maenpo Cianjur, Ibrahim semula berguru kepada Bang Madi, asal Kampung Tengah, Tanah Abang, Batavia.

Suatu ketika Bang Madi memintanya berguru ke Bang Kari di Tangerang untuk menambah pengalaman. Bang Kari sendiri terkenal sebagai tokoh pencak silat yang menguasai permainan pukulan (peupeuhan). Sesampainya di sana, Ibrahim mengungkapkan niatnya untuk belajar silat.

Semula Bang Kari tidak langsung menyetujuinya. Tapi, setelah dijelaskan oleh Ibrahim bahwa ia datang atas petunjuk Bang Madi, Bang Kari lalu paham bahwa secara halus Bang Madi meminta ia mencoba muridnya dan lantas mengajarkan ilmunya.

Ibrahim disuruh memasang kuda-kuda dan Bang Kari lantas menyerangnya bertubi-tubi. Ibrahim mampu menghindari semua serangan Bang Kari. Tapi, sebaliknya, Ibrahim pun tidak bisa menjatuhkan Bang Kari. Dia hanya mampu berputar-putar menghindar tanpa mampu menyerang Bang Kari.

Ketika Bang Kari hendak menyerang dengan menginjak kaki Ibrahim, serangan tersebut bisa dihindari sehingga papan lantai rumah Bang Kari patah terkena injakan keras tersebut. Bang Kari pun akhirnya berhenti menyerang seraya berkata, Sudah cukup Raden belajar silat karena tidak ada lagi yang bisa mengalahkan Raden.

Tapi Ibrahim terus memohon agar ia diterima sebagai murid. Hati Bang Kari pun akhirnya luluh dan bersedia menurunkan ilmunya,

Dari Rd. H Ibrahim dan murid-muridnya itulah, yang juga belajar aliran Sabandar dari Muhammad Kosim, ilmu pukulan Bang Kari ini diwariskan sampai ke Aa Toha.

Karakteristik aliran ini mengandalkan serangan tangan, baik lewat pukulan kepalan, telapak, punggung tangan, siku, maupun bagian lain dari tangan. Uniknya, bentuk kepalan dalam Kari Cikaret juga khas, yaitu dengan menonjolkan buku jari telunjuk.

Kalau ini mengenai bagian tubuh yang rawan, seperti jakun atau leher, bisa mematikan, kata Wak Dudun. Selain itu, serangan dilakukan secara cepat dan bertubi-tubi.

Tidak seperti aliran bela diri keras lainnya, Kari Cikaret tidak mengenal praktek latihan dengan memukul benda-benda keras. Memukul benda itu mudah, tapi yang sulit adalah memukul orang karena manusia tentu tidak akan diam kalau dipukul, katanya.

Perbedaan lainnya, Kari Cikaret juga mengenal latihan sparring dengan menempel tangan lawan untuk melatih rasa atau kemampuan mendeteksi serangan lawan.

Perbedaannya, dalam latihan sparring itu, reaksi serangannya adalah dengan pukulan keras ke leher, tendangan ke arah kemaluan, cakaran ke bagian muka, dan patahan ke jemari lawan.

Karena teknik silat ini yang mematikan, salah seorang murid Wak Dudun pernah membunuh seseorang dalam perkelahian. Karena dia berkelahi untuk membela diri, dia hanya dipenjara selama 2 tahun, katanya.

Wajar jika Mamai lari terbirit-birit meski hanya memperagakan salah satu jurus bersama sang guru. Sebab, Maenpo Kari Cikaret memang benar-benar mematikan.


Sumber : Koran Tempo, Edisi Minggu 1 Juli 2007

4 comments:

Suiswoyo said...

mantap, harus dijaga dan dilestarikan jangan sampai punah ...

Anonymous said...

Sya sngt mengagumi Maenpo Kari Cikaret ini kelak sya ingin skali bs bljr dgn anda,skrng sya bru brusia 16th.. Motivasi sya adlh spy sya bisa mnjadi pribadi yg lbh prcaya diri dn tdk dianggap rendah oleh tman2 sya..

click'di choky said...

Okeh bgt, saya kagun akan kecepatan,y..

padahal doyan said...

minta ijin copaz bang, sekalian minta tulung, kalo ada sejarah ato nama asliny bang kari pendekar asli benteng tangerang dung, terimakasih :D