Menjadi seorang Puragabaya adalah suatu kehormatan besar. Kedudukan Puragabaya adalah kedudukan yang mulia. Seorang Puragabaya menyatukan sifat kesatriaan, keperkasaan dan kefaqihan agama dalam dirinya. Puragabaya merupakan pemuda pilihan yang diangkat dari kalangan bangsawan yang memiliki akhlak dan budi pekerti yang luhur serta fisik yang prima. Untuk dapat menjadi seorang Puragabaya harus melalui tahapan yang sangat berat dan sulit. Puragabaya diharuskan hidup sederhana , tinggal di sebuah padepokan di tengah hutan belantara, menghadapi latihan-latihan yang taruhannya nyawa. Selain mempelajari ilmu kanuragan dan beladiri yang mumpuni, Puragabaya juga dibekali dengan ilmu-ilmu agama. Sehingga seorang Puragabaya selain memiliki ilmu kanuragan yang sangat ampuh dan berbahaya, juga memiliki kefaqihan yang tinggi dalam agama.

Tuesday, August 23, 2011

Maenpo Kari Cikaret - Ilmu Pukulan Yang Mematikan


Plak! Sebuah tamparan ke arah pipi kiri terdengar begitu nyaring. Dari suaranya, bisa dipastikan tamparan itu sangat keras dan menyakitkan. Tak mengherankan jika yang terkena tamparan itu langsung lari terbirit-birit menghindar.

Beberapa orang yang menyaksikan adegan tersebut langsung tertawa. "Kalian sih bisa tertawa, saya sudah kenyang kena pukulannya. Menyentuhnya saja sudah merinding", kata Mamai sembari bergidik.

Mamai adalah salah satu murid aliran pencak silat Kari Cikaret. Yang menampar dia adalah sang guru, Dudun Abdullah. Wajar apabila yang berlatih bergidik. Sebab, siapa pun yang melihat peragaan jurus pukulan yang sangat cepat dan keras itu pasti akan merasa ngeri bercampur kagum.

Wak Dudun--sang guru biasa disapa--adalah putra Aa Toha (wafat pada 1972), yang menjadi perintis aliran ini. Nama Kari diambil dari nama Bang Kari, guru silat asal Kampung Benteng, Tangerang, yang menjadi sumber ilmu. Sedangkan Cikaret adalah nama daerah di Cianjur, tempat Aa Toha bermukim.

Tidak banyak yang diketahui soal Bang Kari kecuali bahwa ia adalah salah seorang guru dari Rd. H Ibrahim, pendiri Cikalong. Menurut Rd. Memet, salah seorang sesepuh Maenpo Cianjur, Ibrahim semula berguru kepada Bang Madi, asal Kampung Tengah, Tanah Abang, Batavia.

Suatu ketika Bang Madi memintanya berguru ke Bang Kari di Tangerang untuk menambah pengalaman. Bang Kari sendiri terkenal sebagai tokoh pencak silat yang menguasai permainan pukulan (peupeuhan). Sesampainya di sana, Ibrahim mengungkapkan niatnya untuk belajar silat.

Semula Bang Kari tidak langsung menyetujuinya. Tapi, setelah dijelaskan oleh Ibrahim bahwa ia datang atas petunjuk Bang Madi, Bang Kari lalu paham bahwa secara halus Bang Madi meminta ia mencoba muridnya dan lantas mengajarkan ilmunya.

Ibrahim disuruh memasang kuda-kuda dan Bang Kari lantas menyerangnya bertubi-tubi. Ibrahim mampu menghindari semua serangan Bang Kari. Tapi, sebaliknya, Ibrahim pun tidak bisa menjatuhkan Bang Kari. Dia hanya mampu berputar-putar menghindar tanpa mampu menyerang Bang Kari.

Ketika Bang Kari hendak menyerang dengan menginjak kaki Ibrahim, serangan tersebut bisa dihindari sehingga papan lantai rumah Bang Kari patah terkena injakan keras tersebut. Bang Kari pun akhirnya berhenti menyerang seraya berkata, Sudah cukup Raden belajar silat karena tidak ada lagi yang bisa mengalahkan Raden.

Tapi Ibrahim terus memohon agar ia diterima sebagai murid. Hati Bang Kari pun akhirnya luluh dan bersedia menurunkan ilmunya,

Dari Rd. H Ibrahim dan murid-muridnya itulah, yang juga belajar aliran Sabandar dari Muhammad Kosim, ilmu pukulan Bang Kari ini diwariskan sampai ke Aa Toha.

Karakteristik aliran ini mengandalkan serangan tangan, baik lewat pukulan kepalan, telapak, punggung tangan, siku, maupun bagian lain dari tangan. Uniknya, bentuk kepalan dalam Kari Cikaret juga khas, yaitu dengan menonjolkan buku jari telunjuk.

Kalau ini mengenai bagian tubuh yang rawan, seperti jakun atau leher, bisa mematikan, kata Wak Dudun. Selain itu, serangan dilakukan secara cepat dan bertubi-tubi.

Tidak seperti aliran bela diri keras lainnya, Kari Cikaret tidak mengenal praktek latihan dengan memukul benda-benda keras. Memukul benda itu mudah, tapi yang sulit adalah memukul orang karena manusia tentu tidak akan diam kalau dipukul, katanya.

Perbedaan lainnya, Kari Cikaret juga mengenal latihan sparring dengan menempel tangan lawan untuk melatih rasa atau kemampuan mendeteksi serangan lawan.

Perbedaannya, dalam latihan sparring itu, reaksi serangannya adalah dengan pukulan keras ke leher, tendangan ke arah kemaluan, cakaran ke bagian muka, dan patahan ke jemari lawan.

Karena teknik silat ini yang mematikan, salah seorang murid Wak Dudun pernah membunuh seseorang dalam perkelahian. Karena dia berkelahi untuk membela diri, dia hanya dipenjara selama 2 tahun, katanya.

Wajar jika Mamai lari terbirit-birit meski hanya memperagakan salah satu jurus bersama sang guru. Sebab, Maenpo Kari Cikaret memang benar-benar mematikan.


Sumber : Koran Tempo, Edisi Minggu 1 Juli 2007

Monday, July 4, 2011

Silat...Silaturrahim....

Mungkin tidak banyak yang mengetahui kedekatan hubungan 2 orang tokoh Maenpo Cianjur layaknya saudara, Bp Dudun Abdullah Toha atau biasa disapa Wak Dun (Sesepuh Maenpo Kari Cikaret) dan Bp Ita Sasmita (Sesepuh Maenpo Cikalong), telah terjalin sejak lama.

Bp Ita Sasmita sering bersilaturrahim ke kediaman Wak Dun. Bahkan dalam beberapa kali kesempatan, gw bersilaturrahim ke rumah Wak Dun, sering bertemu Bpk Ita di sana.

Awalnya dulu, gw berguru ke Wak Dun, tapi Wak Dun juga merekomendasikan gw untuk belajar Cikalong juga ke Bpk Ita. Melalui kedua tokoh tersebutlah, gw beruntung bisa mempelajari Maenpo Cianjur yang sangat terkenal seperti Kari Cikaret, Sabandar, Madi dan Cikalong.

Sering ketika Wak Dun sedang melatih, Bpk Ita hadir menemani, begitupun sebaliknya. Kadang2 ada juga kejadian unik, selesai berlatih dengan Wak Dun, langsung berlatih lagi dengan Bpk Ita, masih di kediaman Wak Dun. Wak Dun pun memotivasi juga agar semangat belajar ke Bpk Ita. "Ayo sana napeul juga ke Pak Ita....ayo pak Ita....anak2 diajarin...."

Bahkan Wak Dun sesekali tertawa ketika menyaksikan gw "kerepotan" napeul dg Bpk Ita. Begitu juga sebaliknya, Bpk Ita senyum2 saja ketika melihat gw juga "kerepotan" nepeul dg Wak Dun dan “megap2” mempraktekan Jurus Kari Cikaret yg demikian beratnya.

Alhamdulillah, gw termasuk salah satu orang yang beruntung karena masih memiliki kesempatan berguru kepada 2 orang tokoh yang luar biasa tersebut...The Living Legend of Maenpo Cianjur. Banyak pelajaran yang gw peroleh dari keduanya, selain Maenpo, pelajarin lain yang tak kalah pentingnya adalah Silaturrahim.

Silaturrahim keduanya yang selalu terjaga baik sejak dulu sampai dengan sekarang, memang selayaknya patut dijadikan contoh dan panutan.....

Wednesday, February 10, 2010

Golok Kembar Versi Pendekar Cilik

Barron anak ke 2 gw, sekarang lagi senang-senangnya memainkan golok. Dari cuma sekedar melihat-lihat, nanya-nanya sampai akhirnya minta diajarkan jurus golok kembar. Awalnya permintaaan Barron gw tanggapi tidak terlalu serius, karena toh dia baru kelas 2 SD. Gw pikir dia cuma bercanda. Sampai akhirnya dia bertanya, "Gimana sih pa, cara megang golok yg benar?" Pertanyaan awal tersebut dilanjutkan dengan pertanyaan-pertanyaan selanjutnya seputar jurus golok kembar. Karena dalam beberapa kesempatan, Barron sering memperhatikan ketika gw berlatih jurus golok kembar. Rupanya diam-diam dia mulai tertarik.

Yang membuat gw cukup kaget, ketika pada malam pertama gw ajarkan Barron beberapa gerakan dasar jurus golok kembar (tanpa melalui proses belajar golok tunggal), esok malamnya dia sudah mahir memainkan gerakan yang baru gw ajarkan tersebut. Bahkan dia sudah minta diajarkan gerakan-gerakan jurus selanjutnya....What a big surprise...!

Gw tidak terlalu memaksakan pada Barron ketika sedang melatih jurus golok kembar tersebut. Jika masih ada beberapa gerakan yang belum sesuai "pakem", gw masih bisa tolerir. Paling gw cuma mengingatkan, "Barron hati-hati, Barron perhatikan kuda-kudanya, Barron jangan lupa bacokannya, arah sabetannya, Barron sempoknya, Barron....dst..." Intinya, gw mau dia berlatih dengan senang, tanpa ada paksaan dan kekerasan. Jika sudah senang, tentu hasil yang diperoleh akan luar biasa. Mudah-mudahan kesenangannya memainkan jurus golok kembar, akan semakin menumbuhkan rasa cintanya terhadap pencak silat dan merupakan sebuah langkah awal dari kaki kecilnya untuk membantu melestarikan pencak silat....semoga....

Barron ketika sedang berlatih bbrp jurus dasar golok kembar

Saturday, May 31, 2008

Braveheart


Pada bulan Mei ini, anak kedua gue berumur 6 tahun, Barron Breviantho namanya. Seperti para orang tua pada umumnya, pemberian nama anak tentulah memiliki arti dan filosofi tersendiri. Setiap orang tua selalu mengharapkan yang terbaik bagi buah hati mereka. Bagi gue dan istri, nama anak adalah doa dan harapan. Dalam bahasa Arab, Barron berarti baik. Dan Breviantho merupakan gabungan dari kata Brave (Inggris=berani) yang sudah di Indonesia-kan dan nama belakang gue Haryantho. Kata Brave ini juga terinspirasi dari sebuah film yang berkisah tentang keberanian dan keteguhan hati, Braveheart. Yah…gue dan istri selalu berdoa dan berharap agar Barron Breviantho bisa selalu menjadi seseorang yang baik, sholih, berani dan bertanggung jawab.

Pada Perayaan Ultah IPSI ke 60 yang dilaksanakan di Padepokan Pencak Silat TMII pertengahan bulan Mei ini, gue dan saudara-saudara dari Persinas ASAD turut berpartisipasi pada perhelatan akbar tersebut. Tak ketinggalan, keluarga juga gue ajak. Beberapa event yang ada antara lain atraksi pencak silat, seminar, gerak jalan, pertunjukan musik dan bazaar.

Selama kegiatan berlangsung, Barron terlihat sangat antusias. Sampai ketika gue dan Barron berjalan melihat-lihat bazaar, ada sesuatu yang menarik perhatian Barron. Dan Barron sangat menginginkannya. Barron bilang, di hari jadinya yang ke 6 ini (bertepatan dengan HUT IPSI), dia menginginkan kado dari gue. Dia minta dibelikan Sand Sack….ya…Sand Sack. Barron menambahkan, “Nanti itu (Sand Sack) buat latihan sama papa dan Mbak Osa di rumah.” Agak surprise gue mendengar permintaannya. Betapa “sumringah”nya Barron ketika gue berikan Sand Sack tersebut sebagai “kado” untuknya. Dia bilang, “Papa, Alhamdulillah Jaza Kaulohu Khoiro…Barron seneng banget…”
Dan kini, hari-hari Barron selalu diisi dengan bermain dengan “mainan baru” bersama Mbak Osa, sang kakak tercinta.

Seperti pernah gue tulis pada artikel Pendekar Cilik, gue tidak pernah memaksa anak-anak gue untuk berlatih beladiri terutama silat. Gue ingin, kecintaan anak-anak gue pada silat tumbuh dari dirinya sendiri, tanpa ada paksaan.. Just let it flow…..
Dan kadang ketika Barron lelah bermain dengan “mainan baru”nya, Barron duduk di sisi gue yang sedang memetik gitar, meminta dinyanyikan lagu favoritnya ciptaan Iwan Fals berjudul Nak.
Gue dan Barron pun berduet, “…duduk sini nak dekat pada bapak, jangan kau ganggu ibumu. Turunlah lekas dari pangkuannya, engkau lelaki kelak sendiri….”

Thursday, January 31, 2008

Under Estimate


“Yah badan kecil begitu, gampang deh dia gue kalahin….”
Percaya diri memang mutlak diperlukan dalam menghadapi suatu pertarungan, tapi kalau ke-“PD”-an itu berujung dengan meremehkan lawan, nah itu lain lagi ceritanya.

Kadang kita memandang remeh kepada lawan yang posturnya jauh lebih kecil. Hanya dengan melihat postur tubuh seseorang, tidak serta merta kemampuan lawan dapat diukur. Padahal ketika meremehkan lawan, justru itulah kelemahan terbesar kita. Ingat artikel gue sebelumnya tentang Silat...unbelievable, itulah yang gue alami karena meremehkan lawan.
Dengan meremehkan lawan, secara tidak langsung kita berkesimpulan bahwa lawan dapat dikalahkan dengan mudah dan keyakinan tersebut terus melekat di kepala. Tapi ketika tiba-tiba serangan lawan yang berpostur tubuh kecil tersebut masuk, apalagi dengan telak dan menjatuhkan kita, kita tidak siap dengan keadaan tesebut. Rasa kesal, malu, gundah, emosi dan bahkan marah menumpuk, bercampur aduk dalam dada sampai menjadi sesak karenanya. Dan akibatnya serangan dan pertahanan tidak terkontrol sehingga dengan mudah dipermainkan oleh lawan dan berujung dengan kekalahan.

Kepercayaan diri memang diperlukan, tapi jangan sampai kepercayaan diri tersebut justru berubah menjadi boomerang karena terlalu “PD”. Bagaimanapun postur tubuh lawan yang kita hadapi, kita harus tetap selalu waspada. Jangan pernah menilai kemampuan sesorang hanya dengan melihat sisi luarnya saja. Siapa tahu di balik postur yang kecil tersebut tersimpan kemampuan yang luar biasa. Dan bagi gue pribadi, gue tetap akan berhati-hati menghadapi lawan bertubuh kecil yang mungkin saja memiliki kemampuan luar biasa. Tapi….gue akan jauh lebih berhati-hati menghadapi orang yang bertubuh besar dan kekar dengan kemampuan yang luar biasa.

Thursday, October 25, 2007

Never too old to learn


“Gue sih mau ikut belajar beladiri buat pegangan, tapi apa masih kuat, masih mampu? Ah ntar sakit-sakit semua badan gue, umur gue khan udah kepala 4..” Ungkapan keraguan seperti itu yang sering disampaikan teman-teman gue yang sebenarnya masih ada keinginan untuk belajar beladiri. Mungkin kalau usianya sudah kepala 4 mau jadi atlet, ya sudah tidak tepatlah. Walaupun bukan hal yang mustahil. Tapi jika ingin belatih beladiri sebagai penjagaan, usia kepala 4 bukanlah kendala. Jika ingin berlatih beladiri sebagai penjagaan, maka pilihlah beladiri yang sesuai. Orang yang badannya melar, perut buncit seperti Ronny Dozernya Extravaganza tentulah kurang cocok dengan beladiri yang lebih berfokus pada tendangan.

Beladiri yang baik adalah beladiri yang bisa dipelajari oleh siapapun. Maksudnya adalah gerakan dan teknik beladiri tersebut dapat dipelajari dan mudah diaplikasikan oleh siapapun tanpa membedakan apakah dia pria, wanita, orang muda, orang tua, gemuk, kurus, tinggi, pendek.

Selanjutnya, pilihlah beladiri yang bisa di aplikasikan dimanapun dan dalam keadaan apapun. Jangan sampai memilih beladiri yang kalau mau diaplikasikan harus mencari posisi yang enak dulu. Padahal serangan atau ancaman bisa datang dalam kondisi apapun. Contohnya, ketika dapat masalah dalam angkot, bis atau kereta yang penuh sesak dengan penumpang, masak harus cari posisi yang enak dan tempat yang luas dulu, kelamaan bro…
Beberapa aliran silat bahkan ada yang mengajarkan bagaimana cara bertarung di tempat-tempat yang tidak nyaman untuk melakukan pertarungan. Metode latihannyapun banyak macamnya. Ada yang berlatih mengantisipasi serangan dari 8 penjuru arah mata angin, sparring di atas meja yang kecil, di kolong bale-bale, di atas permukaan lantai licin yang ada air sabun di atasnya, di dalam sarung, di atas pasir/ permukaan tanah yang tidak rata/ berbatu dan kondisi lain yang tidak nyaman.

Dan yang tidak kalah penting adalah pilih beladiri yang memiliki metode latihan yang mampu merespon dengan sangat baik serangan secara tepat dan akurat. Dan untuk yang satu ini juga, harus dapat dipelajari oleh siapapun.

Jika belajar beladiri merasakan sakit-sakit sedikit wajarlah. Kadang orang tidur saja bisa merasakan sakit, kalau pas lagi tidur mimpi dikejar anjing gila sampai lari tunggang langgang….ehhh tau-tau…….gedebuk..!! jatuh dari atas ranjang dengan posisi kepala “nyungsep” duluan ke lantai. Yang tidur saja bisa sakit, apalagi yang belajar beladiri.

Ketauilah, tidak akan ada ruginya orang yang belajar. Pasti ada sesuatu yang dapat kita petik dari apa yang telah kita pelajari. Dan tidak ada istilah terlambat untuk belajar beladiri.

Thursday, July 19, 2007

Pendekar Cilik

Menanamkan minat dan kecintaan terhadap ilmu dan seni beladiri terutama silat, kepada anak-anak merupakan hal yang gampang-gampang sulit untuk dilakukan. Karena pada umumnya, anak-anak masih belum memahami betapa tingginya nilai warisan leluhur tersebut. Ibarat mutiara, jika diberikan kepada anak kecil mungkin hanya akan menjadi mainan untuknya, dibuang bahkan mungkin dirusak. Tapi jika mutiara diberikan kepada orang dewasa yang memahami betapa tingginya nilai sebuah mutiara, tentulah akan dijaga, disimpan, dirawat dengan sepenuh hati jangan sampai mutiara tersebut hilang atau rusak. Anak-anak mungkin masih belum mengerti pentingnya menjaga dan melestarikan silat sebagai warisan leluhur yang sangat tinggi nilainya, tapi itu bukanlah masalah utama. Karena itu, tanggung jawab kita yang telah mengerti untuk memberikan pemahaman kepada mereka.

Proses awal yang harus dilakukan adalah memperkenalkan anak-anak pada silat, seperti kata pepatah “Tak kenal maka tak sayang”. Pada proses perkenalan inilah yang menjadi pondasi utama untuk membangun kecintaan mereka kepada silat. Jika pada proses perkenalan, anak-anak merasa senang, nyaman, enjoy tentulah ke depannya akan lebih mudah. Tapi jika pada proses perkenalan, anak-anak merasa tidak senang, tidak nyaman, dipaksakan, jangan harap kecintaan tersebut tumbuh. Bahkan mungkin sebaliknya, rasa benci, trauma, takut yang timbul.
Kalo gue sendiri tidak pernah memaksakan kepada anak-anak gue untuk belajar pencak silat. Tapi secara tidak langsung, anak-anak selalu gue ajak untuk berkenalan, bersosialisasi, bergaul dengan hal-hal yang berhubungan dengan silat. Entah itu pada kegiatan-kegiatan latihan, kejuaraan, festival dan lain-lain. Kadang pada kegiatan-kegiatan tersebut ada demonstrasi yang dilakukan oleh para pendekar cilik, yang dapat menimbulkan ketertarikan pada anak-anak. Hal tersebut bisa saja menjadi salah satu pemicu, motivasi bagi anak-anak untuk bisa seperti para pendekar cilik tersebut. Ini salah satu contoh yang terjadi pada anak-anak gue.
Proses yang tidak kalah pentingnya adalah mengemas bagaimana caranya silat merupakan sesuatu yang menyenangkan bagi anak-anak. Karena pada dasarnya, anak-anak masih senang bermain. Meskipun begitu, nilai-nilai luhur seperti kesabaran, kebersamaan, kerjasama, sportivitas, dispilin dan tanggung jawab sudah mulai ditanamkan.

Jerih payah gue untuk menanamkan kecintaan silat kepada anak-anak gue sudah mulai membuahkan hasil, mereka mulai menyukai silat. Mereka minta dibelikan seragam, dibelikan golok-golokan, minta diajarkan tepak dan hal lain yang berbau silat. Suatu proses awal yang positif sebagai upaya pelestarian silat. Ini merupakan salah satu langkah kecil yang sementara gue bisa lakukan sebagai wujud kecintaan gue pada silat, dengan menumbuhkan kecintaan akan pada anak-anak gue. Minimal gue sudah punya 2 pendekar cilik yang mudah-mudahan bisa meneruskan tongkat estafet pelestarian silat di masa depan. Melalui tangan-tangan mungil merekalah tongkat tersebut akan terus dibawa untuk diberikan kepada tangan-tangan mungil para pendekar cilik lain, yang masih mau peduli untuk selalu menjaga dan melestarikan warisan leluhur ini. Kepada siapa lagi tongkat estafet pelestarian silat kita berikan, selain kepada para pendekar cilik tersebut sebagai pewarisnya.

Monday, April 23, 2007

Jurus Golok Kembar

Memainkan jurus golok kembar memang agak lebih ‘njlimet’ dibandingkan dengan gerakan jurus golok tunggal. Bisa dikatakan demikian karena untuk menguasai jurus golok kembar, jurus golok tunggal harus dikuasai terlebih dahulu. Kecermatan, ketelitian, konsentrasi menjadi faktor utama dalam memainkan jurus ini. Gerakan tangan, gerakan kaki, pola langkah merupakan satu kesatuan gerak yang membentuk jurus golok kembar. Jurus ini harus dilakukan dengan sangat keras, cepat dan akurat. Jika fokus dan konsentrasi sedikit saja buyar maka kontrol gerakan akan terganggu, bisa-bisa salah satu anggota badan dapat teriris.

Gerakan jurus golok kembar terdiri atas 2 gerakan inti, gerakan serangan dan gerakan pertahanan. Dan untuk gerakan serangan juga terbagi dua pola yaitu serangan atas dan serangan bawah. Ada juga beberapa gerakan serangan yang bersifat ‘pancingan’, gunanya untuk menggangu fokus dan konsentrasi lawan. Salah satu kesulitan dalam mempelajari jurus golok kembar adalah menyelaraskan gerakan anggota tubuh sebelah kanan dan kiri, terutama tangan. Jika yang lebih dominan tangan kanannya, maka tangan kiri harus bisa mengimbanginya. Begitu juga sebaliknya, apabila yang lebih dominan tangan kiri/ ‘kidal’. Jika tidak, maka gerakan jurus tidak akan terlihat ‘mantap’ dan selaras, karena hanya tangan tertentu yang lebih dominan. Selain itu, golok yang digunakan juga harus disesuaikan dengan sang pemain jurus. Yang penting si pemegang golok harus merasa pas dan nyaman dengan berat golok, panjang golok, pegangan golok yang digunakan. Intinya, golok harus sesuai dengan postur tubuh si pemain jurus golok kembar ini.

Jurus golok kembar juga dapat diiringi dengan gendang pencak seperti tepak tilu atau tepak dua misalnya. Tapi jika sudah menggunakan iringan gendang pencak, tentu saja gerakan jurus tidak secepat dan sekeras jurus aslinya. Dan hanya sedikit gerakan jurus yang diperagakan, tidak semua.

Dipelukan ketekunan, kesabaran dalam mempelajari jurus apapun, termasuk jurus golok kembar. Dan untuk jurus golok kembar, karena kedua golok yang digunakan untuk mempelajari jurus ini harus tajam, maka kehati-hatian dan kewaspadaan mutlak diperlukan, jangan sampai anggota badan jadi korban sabetan golok.

Thursday, March 15, 2007

Mata

Mata merupakan salah satu anggota tubuh yang sangat vital. Mata memiliki peran yang sangat penting dalam setiap aktivitas, termasuk dalam beladiri. Hampir dalam semua aliran beladiri, ketajaman mata sangat diperlukan. Dengan mata yang tajam tentu saja dapat senantiasa mengawasi setiap gerakan lawan. Ada berbagai macam cara dilakukan untuk memiliki mata yang tajam, tidak mudah berkedip/ terpejam ketika menghadapi serangan. Dalam beberapa aliran silat tradisional yang pernah gue tau, ada beberapa metode. Seperti ada yang ditetesi air yang telah dibacakan doa oleh gurunya, ditetesi perasan air jeruk nipis, air daun sirih, membaca amalan tertentu sampai selesai tanpa mengedipkan mata, berwudhu dengan tanpa mengedipkan mata ketika membasuh wajah, menatap matahari secara langsung selama beberapa saat setelah mata hari terbit sambil membaca suatu amalan, dan beberapa metode lainnya mungkin, yang belum gue tau.

Dalam beberapa kali kesempatan menyaksikan atraksi beladari, ada orang-orang yang kuat ditusuk tombak lehernya, dipukul rahangnya, dibacok dan ditusuk badannya, tidur diatas paku kemudian dipukul perutnya, dan masih banyak lainnya. Tapi belum pernah tuh gue liat atraksi kuat matanya dicolok pake jari, apalagi ditusuk paku atau pisau.

Oleh karena sangat pentingnya peran mata, beberapa aliran beladiri memiliki teknik serangan colok mata yang digunakan untuk merusak fungsi salah satu organ vital ini. Dan jika teknik colok mata ini berhasil masuk, tentu saja dengan seketika langsung menghentikan serangan lawan. Tapi teknik colok mata ini tentu saja tidak akan efektif jika berhadapan dengan si Buta Dari Gua Hantu...he..he...

Friday, February 2, 2007

Puasa Daud

Nggak terasa sudah kurang lebih 13 tahun gue menjalani puasa Daud. Puasa ini diamalkan dengan cara sehari puasa, sehari tidak puasa. Alhamdulillah sampe sekarang Allah masih memberikan gue kekuatan, kesabaran dan keteguhan iman untuk mengamalkan puasa Daud ini. Kira-kira mulai awal tahun 1994 gue mulai menjalani Puasa Daud. Gue inget banget karena saat itu juga gue potong rambut gondrong gue. Gue ingin punya suatu amalan yang besar pahalanya disisi Allah dan gue mampu untuk melaksanakannya."Karena sesungguhnya Allah tidak melihat pada rupa dan hartamu, tetapi Allah melihat pada hati dan amalmu."(HR Muslim)

Puasa Daud adalah puasa yang disyariatkan kepada Nabi Daud dan oleh Rasulullah SAW dijadikan puasa sunnah kepada ummatnya. Banyak sekali fadhilah dan keutamaan puasa Daud ini seperti yang banyak dituangkan dalam hadits. Diantaranya, Allah menyediakan satu pintu khusus untuk masuk ke dalam surga bagi mereka ahli puasa. Pintu tersebut dinamakan Pintu Royyan.

Dalam hadits riwayat Muslim Nabi saw. bersabda kepada Aisyah "Pahalamu tergantung pada kesungguhanmu". ("maa kaana aktsaru fi'lan kaana aktsaru fadhlan", artinya "Semakin sungguh-sungguh suatu ibadah dilakukan maka semakin besar fadhilah/pahalanya".)

Dalam Shahih Bukhori Juz 1 halaman 380 hadits nomor 1097 disebutkan:
Abdullah bin Amr menceritakannya bahwa Rasululah SAW bersabda kepadanya, “Shalat yang paling dicintai Allah adalah shalatnya Nabi Daud alaihis salam, beliau tidur setengah malam lalu bangun sepertiganya dan tidur seperenamnya. Dan puasa yang paling dicintai Allah adalah puasa Nabi Daud, beliau puasa sehari dan berbuka sehari”

Pada hadis yang lain beliau bersabda kepada Abdullah bin Amar., "Berpuasalah sehari dan berbukalah sehari. Itu adalah puasa Daud as. Ia adalah sebaik-baik puasa." Mendengar itu, Abdullah bin Amr menjawab, "Aku mampu lebih dari itu." Nabi berkata, "Tidak ada yang lebih baik dari itu." (HR al-Bukhari).

Dan gue selalu berdoa, semoga Allah selalu memberikan kekuatan, kesabaran serta keteguhan iman untuk mengamalkan puasa Daud ini sampai ajal menjemput dan tetap selalu dengan niat karena Allah.....Amiin.

Monday, December 25, 2006

Bloodsports

Sudah pernah nonton film Bloodsports yang dibintangi Van Damme. Yang diangkat dari kisah nyata tentang pertarungan bebas yang diadakan secara illegal. Asal tau aja bahwa pertarungan bebas seperti ini sebenarnya ada juga di Indonesia. Gue pernah hadir beberapa kali dalam event seperti ini. Undangan yang hadir pun dibatasi. Yang diundang pun bukan perguruan besar, melainkan kebanyakan perguruan keluarga. Pernah juga sih ada orang dari perguruan seperti karate, taekwondo, kempo, judo hadir. Tapi diundang sebagai pribadi bukan atas nama perguruan. Petarung yang turun pun tidak sembarangan, mereka harus direkomendasikan oleh sang guru. Biasanya sang guru hanya membawa 1 atau 2 orang muridnya dalam event tersebut. Acara biasanya dimulai malam hari setelah sebelumnya melakukan sholat Isya berjama’ah. Pertarungan yang digelar dalam event tersebut tidak mempunyai aturan khusus. Pertarungan menggunakan tangan kosong, dan semua anggota badan halal diserang. Yah kalo boleh minjem istilah salah satu film pertarungan bebas, “There’s only one rule, no rule…!!” Yang mau pake jimat, pake isim silahkan saja. Tapi sepanjang sepengetahuan gue, yang udah pake jimat tetep aja hidungnya moncrot berdarah kena pukul, nggak ngaruh tuh…

Memang yang namanya hidung moncrot, bibir pecah, gigi patah, jari, tangan/kaki keseleo bahkan patah bukan hal yang aneh dalam pertarungan tersebut. Gue sendiri dulu hadir beberapa kali dalam event tersebut diajak oleh salah seorang guru silat gue. Bahkan pernah ada seorang pelatih Kempo sabuk hitam mengalami patah tulang kering, setelah tendangan mawasi geri nya ditangkis hanya dengan tangan kiri oleh seorang pesilat yang badannya jauh lebih kecil. Walaupun banyak yang cidera, tetapi tidak pernah ada dendam diantara peserta. Karena masing-masing sudah tau resikonya. Tapi sayang setelah guru silat gue tersebut meninggal, gue nggak pernah tau lagi mengenai pertarungan bebas tersebut, apakah masih tetep berlangsung sampe sekarang atau tidak.

Friday, November 10, 2006

Ciri Petarung

Setiap petarung mempunyai ciri sendiri dalam menghadapi suatu pertarungan.

Yang pertama mendahului serangan dan tidak memberi kesempatan lawan untuk menyerang Gerakan cepat, tepat, dan kuat untuk melumpuhkan lawan harus kita lakukan terlebih dahulu, sebelum lawan menyerang lebih dahulu. Tujuannya adalah untuk membuat lawan terkejut, dan apabila serangan kita tepat sasaran akan membuat lawan menjadi lemah. Namun perlu diantisipasi kalau lawan dapat mengelak/menghindar atau serangan kita ternyata tidak tepat sasaran.

Yang kedua menunggu serangan
Dengan asumsi bahwa menunggu serangan adalah posisi menguntungkuan, karena fokus hanya kepada serangan lawan sambil membaca kelemahan lawan untuk selanjutnya memberikan serangan balik dengan cepat dan akurat ke daerah lemah tersebut.

Toh itu itu semua di atas akan sia-sia jika tidak barengi dengan mental dan fisik yang prima. Bagaimanapun baiknya teknik dan strategi, kalo nafasnya nafas kretek, mentalnya mental tempe, kontrol emosi amburadul, yah bakalan cuma jadi sansak hidup doang deh sama lawan.

Monday, October 16, 2006

Silat….unbelievable

Gue sendiri mulai tertarik silat, karena ngeliat temen-temen gue dibuat nggak berkutik ngadepin seorang guru silat yang kalo diliat tongkrongannya jauh dari seorang pendekar, kecil & kurus. Padahal temen-temen gue semuanya pemegang sabuk hitam Karate, Taekwondo, Kempo. Gue sendiri akhirnya penasaran dan pengen jajal juga. Sebagai karateka pemegang sabuk hitam, gue merasa pukulan & tendangan gue cukup cepet, masak sih nggak bisa masuk serangan gue, itu yang terlintas dalam pikiran gue. Gue cukup yakin karena power & speed pukulan & tendangan selalu gue latih ketika itu. Dan tak disangka-sangka……. akhirnya ……..nasib gue nggak jauh beda sama temen2 gue ….he…he….. , tapi itulah faktanya.

Dalam satu kesempatan sang guru pernah bilang, “Pukulan & tendangan cepat itu bukanlah segalanya. Memiliki pukulan dan tendangan cepat, jika tidak dibarengi pemahaman momentum dan langkah yang baik, itu sama saja bunuh diri.”